Melihat Dari Dekat Wisuda Sekolah Petani Kopi Aceh dan Sumatera

0
199

Catatan Perjalanan Media Tour ITFC

Berastagi, Makronesia.id – Pagi masih buta, Makronesia.id dan sejumlah awak media lain seperti utusan Bisnis Indonesia, Harian Kontan, Sindonews.com dan Metro TV sudah berkumpula di trerminal 2 bandara Soekarno-Hatta!

Dua jam berikutnya, kami sudah mendarat di Bandara Kuala Namu, Deli serdang, Sumatera utara. Selanjutnya kami bergerak ke kota medan untuk beristirahat dan makan siang sebentar di rumah makan Padang Sidempuan, Jl. Sei Belutu Medan.

Sembari menanti rekan-rekan jurnalis dari medan, seperti Antaranews.sumut.com, Beritasumut.com, Go-Sumut.com dan Harian Analisa, team kecil dari Jakarta memanjakan lidah dengan sajian khas etnis Tapanulis selatan dan mandailing.

“Ini holat,” ucap Rusman Siregar, salah satu editor senior Sindonews.com, asal Kota Padang Sidempuan, Senin Sore, di Medan.

Holat adalah ikan lele hutan yang diasapkan, kemudian disiram kuah gulai. Rasanya menggoyang lidah.

Perjalanan kami lanjutkan ke Hotel Grand Mutiara Berastagi, di kaki gunung Sinabung, dalam tempo kurang dari 3 jam. Melalui sejumlah kota kecil dataran tinggi Deli Serdang dan Tanah Karo, seperti Pancur Batu, Sibolangit dan Bandar baru.

Mencapai hotel, tam The Fortuna selaku fasilitator perjalanan yang bertindak atas nama International Islamic Trade and Finacianal corporation (ITFC) memberikan sedikit gambaran tentang acara wisuda besok!. Setelah itu makan malam kemudian istirahat lebih awal.

Matahari belum begitu tinggi, namun suara riang orang-orang bercanda dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah, mewarnai pagi cerah di dalam ball room utama hotel yang tak memasang air conditioner (AC) di setiap ruangannya itu.

Rupanya, sekitar 300 petani kopi dari berbagai daerah seperti tanah Karo, Sidikalang, Mandailing, Simalungun bahkan Aceh, sudah bersiap untuk diwisuda oleh Chief executive Officer (CEO) ITFC Eng. Hani Salem Sonbol.

International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) anggota dari Islamic Development Bank (IsDB) Group menyelenggarakan wisuda petani kopi di Sumatra Utara yang telah menyelesaikan pelatihan tentang peningkatan kualitas dan kuantitas kopi.

Program pelatihan ini bernama Coffee Farmers Field Training Program yang diselenggarakan oleh ITFC bekerja sama dengan LSM Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) dan PETRASA serta melibatkan 349 petani kopi di 11 desa di Kabupaten Karo dan Dairi Sumatra Utara.

Hani Salem Sonbol mengatakan pelatihan ini akan memberikan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh petani untuk mengatasi tantangan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi kopi.

“Para petani yang berpartisipasi dilatih dengan praktek pertanian yang baik yang sangat penting dalam menghadapi tantangan yang disebabkan perubahan iklim,” katanya.

Program pelatihan ini sudah berjalan sejak bulan September 2018 dengan harapan bisa mengatasi tantangan dalam rantai pasokan kopi Indonesia yang memang rentan mengalami penurunan produksi karena perubahan iklim.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi nasional pada 2017 naik 12,56 persen menjadi 464.000 ton dari tahun sebelumnya. Total nilai ekspor tahunan dari industri kopi adalah US$1,2 miliar atau sekitar Rp16,8 triliun.

Salah satu Petani Kopi Tanah Karo, dengan merek Cimbang Sinabung Coffee, sedang mendemostrasikan cara menyeduh kopi dan memperkenalkan Kopi Arabika Karo Kepada pengunjung

Namun peningkatan permintaan pasar untuk kopi tidak diimbangi oleh pertumbuhan produksi dan akhirnya akan jadi masalah dalam pemenuhan kebutuhan pasar.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi kopi berkualitas tinggi sehingga dapat mendukung upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekspor serta meningkatkan kesejanteraan petani.

Sementara itu Direktur PETRASA, Lidya Naibaho mengatakan petani kopi di Sumatra Utara diberikan pelatihan “Coffee Farmers Field Training Program” secara menyeluruh tentang penanaman kopi hingga berdagang.

Harapannya, katanya, petani selain bisa meningkatkan kualitas dan produktifitas kopi tetapi juga meningkatkan kesejahteraan. “Petani diharapkan tidak hanya jago menanam tetapi juga jago juga menikmati hasil,” ujarnya

Direktur Eksekutif SCOPI, Veronica Herlina mengatakan konsumsi di Indonesia melebihi angka konsumsi di dunia, namun mengalami kelemahan dalam hal produktifitas kopi. Produksi secara total dunia bertumbuh 1,5 persen dan sementara di Indonesia mengalami penurunan produksi 6,7 persen sehingga perlu ada upaya menggenjot hasil.

Pihaknya berharap kerja sama program ini bisa dilanjutkan dalam jangka panjang untuk melihat hasil yang lebih besar. “Berharap tiga, lima sampai 10 tahun karena kita tidak bisa melihat hasil yang besar jika programnya jangka pendek.”

Salem Sonbol juga menjelaskan ITFC sudah mengalokasikan dana yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan biji kopi lokal untuk ekspor Indonesia. Tiga perusahaan eksportir lokal telah menandatangani kerja sama pendanaan ini senilai US$6 juta atau masing-masing mendapatkan pembiayaan US$2 juta setara Rp27,9 miliar.

Dana US$30 juta itu untuk eksportir, di awal sudah ditandatangani US$6 juta dan masih ada US$24 juta. Pendanaan ini bergulir enam bulan,” katanya pada konferensi pers penandatanganan perjanjian pendanaan murabahah di Berastagi Sumatra Utara, Selasa (16/7).

Syarat untuk mendapatkan pendanaan ini diantaranya perusahaan eksportir beroperasi lebih dari tiga tahun dan melakukan aktivitas ekspor 2-3 kontainer per bulan. Eksportir tidak perlu mengagunkan aset tetapnya tetapi bisa menjaminkan dengan green bean yang dimiliki.

Program pendanaan ini juga dibarengi dengan upaya peningkatan produksi kopi oleh petani. ITFC menggandeng LSM Sustainable Coffe Platform of Indonesia (SCOPI) dan PETRASA untuk memberikan pelatihan kepada 349 petani kopi di 11 desa di Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi Sumatra Utara.

Kegiatan pelatihan berlangsung sejak September 2018 dan pada Juli 2019 ini sudah dinyatakan lulus program bernama Coffee Farmers Field Training Program tersebut. Pelatihan ini menekankan petani untuk budi daya kopi secara organik serta dilatih menghasilkan kopi yang baik agar layak ekspor. 

Kombinasi antara pembinaan petani kopi dan pendanaan eksportir kopi ini diharapkan bisa menjasi solusi perdagangan terpadu untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia. Dengan kombinasi ini maka petani diharapkan meningkatkan produktifitas kopi siap ekspor dan eksportir dengan pendanaan ITFC akan membeli produk kopi dari petani tersebut.

Hani menjelaskan bahwa program ini merupakan Solusi Pengembangan Terpadu pertamanya dalam bentuk dukungan pada sektor kopi Indonesia. Progam akan dievaluasi selama tiga tahun atau pada 2022 dan jika ini terbilang sukses maka akan dilanjutkan untuk pengembangan perdagangan terpadu komoditas lain di Indonesia.

Latar belakang daripada keinginan ITFC melakukan program ini adalah karena Indonesia merupakan ekspotir nomor empat terbesar dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolumbia. Kopi Indonesia dipandang memiliki peluang yang besar dalam perdagangan komoditas dunia.

Apalagi tingkat konsumsi kopi secara global mengalami kenaikan yang tentunya akan membuka peluang pasar yang lebih lebar. Konsumsi kopi dunia 2017-2018 berdasarkan data International Coffee Organization menunjukkan tumbuh 3,13 persen, sedangkan pertumbuhan produksi kopi hanya tumbuh 1,96 persen.

CEO ITFC Eng Hani Salem Sonbol (tengah), GM Trade & Busindess Development Eng Nasser Al Thekhair (kiri) dan Div. Manager Trade Development Aymen Kaseem (foto ; BA)

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementan Irmijati Rachmi Nurbahar mengatakan bahwa kopi memiliki peluang besar dari sisi agribisnis. Tetapi dalam pengembangan kopi nasional ada permasalahan dari hulu sampai hilir.

Irmijati yang membacakan sambutan Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono memaparkan dari hulu masih rendahnya produktifitas salah satunya disebabkan oleh kondisi tanaman sudah tua dan kurang produktif.

Sedangkan di hilir mengalami permasalahan masih kurangnya penanganan saat panen dan pascapanen yang berimbas terhadap kualitas kopi.

Pemerintah sudah melakukan upaya dengan rehabilitasi, intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman kopi dengan tujuan untuk meningkatkan produksi.

Dengan hadirnya ITFC melakukan pengembangan kopi ekspor Indonesia, pemerintah memberikan apresiasi dan diharapkan tidak cuma komoditi kopi saja tetapi juga komoditas perkebunan lainnya.

Bupati Karo, Terkelin Brahmana mengatakan luas tanaman kopi sampai 2018 mencapai 9.128 hektare dengan produksi 13.279 ton dan rata-rata produksi 1,9 ton kilogram per hektare per tahun.

Selama ini, katanya, sebagian besar petani belum intensif melakukan budi daya kopi. Diharapkan dengan peluang ekspor kopi ini diharapkan masyarakat bisa meningkatkan produksi dan menyejahterakan petani.

Asisten Hubungan Ekonomi dan Infrastruktur Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan OKI, Aditya Perdana menyampaikan apresiasi peran ITFC memberikan training untuk petani karena tidak hanya mengembangkan kapasitas dan kualitas tetapi juga tentang kebutuhan ekspor.

“Ke depan program ini dikembangkan tiak hanya di Sumatra Utara tapi juga di provinsi lain,” katanya.

Petani Kopi yang telah diwisuda, mengapit Bupati Karo, Terkelin Brahmana, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Mua “Ijeck” Rajeckshah, dan CEO ITFC, Hani Sombol.

Wakil Gubernur Sumatra Utara Musa Rajekshah berharap petani memiliki kesejahteraan ekonomi yang semakin baik dengan menghasilkan produksi pertanian maupun perkebunan yang bertaraf ekspor.

Musa pernah menyampaikan kepada Balai Karantina bahwa Sumut melakukan ekspor kopi, kol, jagung dan lainnya. “Saya menyampaikan, kami menginginkan petani menjadi orang kaya, jangan hidup pas-pasan saja” katanya.

Untuk meningkatkan taraf ekonomi petani itu, Pemprov Sumut akan membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang akan membeli komoditas pangan hasil daerah.

Pihaknya telah meminta bantuan dari Kementerian Pertanian dan  telah berbicara dengan ITFC untuk membangun kultur agar komoditas tanaman memiliki standar ekspor.

Musa berharap dengan adanya BUMD komoditas ini diharapkan menciptakan persaingan yang sehat bersama eksportir lokal sehingga akan memberikan harga yang baik kepada petani. (AM/Bisnis Indonesia/BA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

37 − = 31