Jakarta, Makronesia.id – Seorang individu karakternya tidak akan banyak berubah. People don’t change that much. Don’t waste time trying to put in what was left out. Try to draw out what was left in. That is hard enough.” – Marcus Buckingham

Marcus Buckingham mengatakan, “Orang tidak berubah banyak. Jangan buang waktu untuk menambahkan apa yang kurang. Cobalah untuk mengeluarkan apa yang sudah ada. Itu saja sudah cukup susah.”

Anak-anak yang kecilnya keras kepala, besarnya pun cenderung keras kepala. Masa tuanya? Masih sama. Anak-anak yang pandai bicara, besarnya pun pandai bicara. Demikian pula di masa tuanya. Mereka yang kecilnya senang berteman, besar dan tuanya pun sama. Kecuali ada peristiwa yang “traumatik” atau melibatkan emosi yang intens, sifat manusia cenderung tetap.

Sebuah penelitian yang melibatkan 1000 anak di New Zealand menemukan bahwa sifat anak pada umur 3 tahun serupa dengan saat mereka 26 tahun. Sifat kita cenderung tetap. Teman-teman boleh ganti istilah sifat dengan kepribadian, watak, karakter, personality traits atau apapun. Untuk kepentingan praktis, kita anggap itu semua sama. Sifat adalah pola pikiran, perasaan dan perilaku yang berulang, yang paling alamiah pada diri seseorang.

Secara neurosains, koneksi saraf di otak kita memiliki jumlah terbanyak saat kita berumur 3 tahun. Pada saat itu, kita memiliki sekitar 100 juta neuron. Masing-masing neuron ini membentuk 15.000 koneksi. Artinya ada sekitar 1,5 trilyun koneksi saraf.

Di rentang umur 3-15 tahun, koneksi-koneksi ini terputus dan mati. Hanya koneksi kuat yang bertahan. Puncaknya, pada umur 16 tahun hanya tersisa 15 persen koneksi saraf yang tersisa. Inilah yang kita kenal dengan sifat kita.

Terkait otak, less is more. Cerdas bukanlah ditentukan oleh banyaknya koneksi saraf. Cerdas adalah tentang seberapa baik kita menggunakan koneksi terkuat yang kita punya. Alam mematikan sebagian besar koneksi kita agar kita bisa mengeksploitasi yg sedikit

Inilah sebabnya, sebanyak apapun usaha kita mengubah diri kita, kita hanya berubah sedikit. Kita berusaha dengan berbagai cara. Mengikuti pelatihan, membaca buku, memprogram diri dan lain sebagainya. Namun, kita tidak berubah banyak. Kita hanya mengubah sebagian kecil dari diri kita. Kita hanya menguatkan apa yang sudah ada. 

Sementara apa yang menjadi kelemahan kita, tetaplah lemah. Berbagai cara dilakukan, namun tetap saja ia tidak menguat. Kasarnya, ia hanya meningkat sampai titik netral (dimaklumi) tapi tidak pernah menjadi hebat.

Jika kita tidak puas dengan cukup bagus dan ingin menjadi hebat, tak cukup bagi kita hanya mengatasi kelemahan. Kita perlu mengenali potensi kekuatan dan mengasahnya. Ibarat barang tambang. Ia perlu dikenali, ditambang lalu diolah dengan cara dibersihkan, dibakar atau diasah. Barulah ia menjadi barang yang berharga. Bila tidak, kita tak akan dapat membedakannya dengan batu biasa. 

Bagaimana caranya? Kenali sifat produktif kita (baca: bakat kita. Di artikel lalu kita sudah bahas bahwa bakat adalah sifat produktif). Investasikan waktu untuk mengasah dan menguatkannya. Inilah satu-satunya cara untuk mengubah Anda dari bagus menjadi hebat, from good to great.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 6 = 3