Kemandirian Nabi Muhammad Saw Di Waktu kecil

0
56589

Ditulis oleh : Ahmad Zukhri Siregar, Pegiat Pendidikan dan Kebudayaan. Pengajar di MAN Insan Cedikia Tapsel. Alumnus Fak. Ilmu Kebudayaan USU.

Di Momentum Maulid Nabi Muhammad Saw 1441 H hampir belahan Ummat dunia tentu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

kita sebagai Ummat Islam Indonesia juga turut merayakan dan mengenangnya. alih-alih mengenangnya perlu juga kita menelisik kehidupanNya.

Banyak contoh suri teladan yang ada pada Nabi Muhammad sebagaimana kita lihat di dalam kitab suci Al-quran

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21].

Nabi Muhammad Saw Lahir pada 22 April 571 M di Mekkah, pada saat kelahirannya dalam keadaan yatim Ayahnya bernama Abdullah meninggal dunia dalam perjalanan dagang ke Syam, yakni sewaktu Muhammad masih dalam kandungan sang ibu.

Setelah beberapa lama tingal bersama ibunya, bernama Aminah. Pada usia 6 tahun, sang Ibu mengajaknya berziarah ke makam suaminya di Yatsrib. Maka berangkatlah mereka keluar dari kota Mekkah,menempuh berjalan sepanjang 500 km, di temani ole Ummu Aiman dan di biayai oleh Abdul Mutthalib. Di tempat tujuan, mereka menetap sebulan.

Setelah itu mereka kembali ke Mekkah. Namun di tengah perjalanan, ibunya menderita sakit dan akhirnya meninggal di perkampungan Abwa’ yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah.

Muhammad kecil melewati masa kecil sebagai yatim piatu, tentu kita bisa membayangkan betapa sulitnya kita dalam kondisi yatim piatu. namun kakeknya Abdul Muthalib sangat iba terhadap cucunya yang sudah menjadi yatim piatu diusianya yang masih dini. Maka dibawalah sang cucu ke rumahnya, diasuh dan dikasihi seperti anak-anaknya sendiri. 

Tapi lagi-llagi kasih sayang sang kakek tal berlangsung lama di rasakan Muhammad kecil. Saat berusia 8 tahun, kakeknya meninggal dunia di Mekkah. Namun sebelum wafat beliau berpesan agar cucunya tersebut dirawat oleh paman dari pihak bapaknya; Abu Thalib.

Berada dalam asuhan pamannya yang juga sangat mencintainya. Abu Thalib merawatnya bersama anak-anaknya yang lain, bahkan lebih disayangi dan dimuliakan. Dia juga mengajarkan kemandirian Muhammad berusia 8 tahun dengan menjadi penggembala. Beliau banyak belajar dan menghabiskan waktu tersebut.

Ada istilah pepatah Arab yang sangat populer dari dulu “” yang artinya “Kemuliaan seseorang terletak seberapa butuh dia dengan Manusia lain.” mungkin istilah tersebut membuat ia (Muhammad) Mandiri dan menjadi orang pejuang. 

Pada usianya umur 12 tahun (katakanlah kelas VI SD), ia sudah mandiri dan berdagang sampai Syiria dibawa pamannya dan Ia terus berusaha dan belajar dalam perbisnisan tersebut hingga usianya Dewasa 25 Tahun  Muhammad telah menjadi pengusaha yang kaya raya dan sudah berdagang hingga luar negeri, tidak kurang dari 18 kali.

Tentu apa rahasia keberhasilan dia tersebut?

Yaitu berbekal kepercayaan, Muhammad kecil sudah memliki prinsip kejujuran dan amanat sehingga mengelola modal orang lain, baik dengan sistem upah ataupun bagi hasil mereka senang dan puas.

Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syiria, Busra, Irak, Yordania, Bahrain, dan simpul-simpul perdagangan lainnya di jazirah Arab. itu menujukan kegigihannya dalam bekerja dan membangun hubungan antar masyarakat secara baik. tentu itu bukan hasil kerja leha-leha. ada pasti banyak tantangan maupun cobaan, meskipun begitu beliau Nabi Muhammad Saw dengan tenang sabar dalam menghadapinya.

Adapun terkait kemandirian, ia selalu bekerja keras dan belajar.

Kita bisa menambil contoh kemandirian dan kegigihan beliau untuk mengajarkan kepada kita khususnya anak-anak Muslim untuk belajar mandiri dan menjadi pejuang karena beliau Nabi Muhammad adalah suri teladan kita baik semenjak kecil mupun hingga wafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − = 11