Jambi Heboh Lagi, Perahu Kuno Berusia 700 Tahun Ditemukan di Tanjub

0
50

JAMBI, MAKRONESIA.id- Arkeolog menduga perahu kuno yang ditemukan di Desa Lambur 1, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, sudah berusia sekitar 700 tahun.

“Usia perahu kuno itu masih dugaan awal. Untuk memastikannya saat ini sampel ijuk dan kayu masih dibawa ke LAB Nasional untuk diuji, kita masih menunggu hasil uji sampelnya,” ujar arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar, di Jambi, Senin (2/9/2019).

Ia mengtakan, berdasarkan hasil penelitian sementara, perahu itu lebarnya sekitar lima meter dengan jarak ujung barat dan timur perahu sampai 24 meter. “Sejauh ini proses ekskavasi baru berjalan sekitar 60 persen, baru sebagian perahu yang dapat diketahui,” katanya.

Dari temuan ini fakta paling unik di bagian bawah bilah papan kapal tidak ditemukan lunas dan rangka, hanya ditemukan kayu-kayu bulat melintang di bawah papan tadi. Dugaannya, kapal ini dalam keadaan parkir untuk perbaikan di sebuah dok.

Perahu tersebut dibuat menggunakan bilah kayu yang disambung menggunakan pasak kayu. Teknik pembuatan perahu yang demikian, merupakan teknik pembuatan kapal yang umum diterapkan di Asia Tenggara pada masa lalu.

Berdasarkan ukuran dan ketebalan papan pembangunnya, menurut arkeolog perahu tersebut kemungkinan digunakan untuk mengarungi samudra. Arkeolog menduga perahu itu dibangun dalam masa antara tahun satu hingga 13 Masehi. Kalau perahu itu usianya 700 tahun, besar kemungkinan keberadaannya berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Sekitar dua kilometer dari tempat penemuan perahu kuno itu, ditemukan makam, sabuk, dan peninggalan yang lain. Berdasarkan temuan benda-benda peninggalan masa lalu tersebut, arkeolog menduga pada masa itu permukiman warga berkembang di sekitar muara sungai.

Sementara itu, arkeolog dari Italia, Prof Chiara Zazzara, yang sedang mengunjungi situs perahu kuno Lambur, menyebut bagian perahu tersebut ada yang hampir sama dengan perahu pinisi.

“Penemuan perahu ini masih misteri, dilihat dari pasaknya memang mendekati jenis perahu pinisi, namun ada perbedaan sedikit pada pasak dan ijuk, karena kapal pinisi kebanyakan menggunakan pasak namun terkait penggunaan ijuk belum bisa dipastikan, dan ini sangat menarik bagi saya untuk diteliti lebih lanjut,” jelasnya. (SP/BA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

85 + = 86