Berkelit Dari Dampak covid-19 Pedagang Grosir Tradisional Harus Coba Gudangada.com

0
519

Jakarta, Makronesia.id  Selama pandemi Covid 19, Pedagang Grosir dan Eceran FMCG (Fast Moving Consumer Goods) menjadi salah satu pelaku bisnis yang terdampak pembatasan fisik penanganan Covid-9. Kondisi ini menimbulkan kendala terhadap rantai suplai produk-produk FMCG.

Dampak ini perlu diatasi karena produk-produk FMCG termasuk di dalamnya kebutuhan bahan pokok tetap sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Menjawab kebutuhan itu, GudangAda, perusahaan startup berbasis aplikasi jual beli online pedagang grosir dsan eceran FMCG B2B Indonesia, menghadirkan solusi bagi para pedagang tradisional FMCG di era digital.

“Di masa pandemi ini, GudangAda juga hadir sebagai solusi atas kendala rantai pasok FMCG akibat pandemi Covid-19 yang membantu menjaga ketersediaan produk FMCG untuk pemenuhan produk kebutuhan masyarakat sehari-hari dan lebih lanjut membantu para pedagang terdampak karena terbatasnya suplai akibat pembatasan fisik, sehingga dengan menggunakan GudangAda bisnis mereka tetap terjaga selama pandemi,” ujar Stevensang, Founder of GudangAda.

Kelangsungan aktivitas para pedagang tradisional memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Euromonitor International 2018, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina berbelanja di toko kelontong. Dari nilai pasar ritel senilai Rp7,5juta triliun, sebanyak Rp 6,85 juta triliun atau sekitar 92 persen diantaranya merupakan transaksi di toko kelontong.

Namun, di saat ini ada beberapa kendala yang mereka hadapi. Kendala tersebut diantaranya biaya logistik yang tinggi dan kesulitan mendapatkan barang laku tepat waktu, terutama akibat dari pandemi Covid 19 yang terjadi. Dengan demikian, penting untuk memastikan pemenuhan suplai sampai ke warung-warung sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam mengakses barang dan tentu mencegah instabilitas harga.

Researcher at Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan, “Sebaiknya para pedagang tradisional ini tetap mengambil peluang-peluang di tengah pandemi agar tetap eksis dan tidak terkena dampak lebih lanjut dari pandemi. Salah satunya, dengan memanfaatkan teknologi dan digitalisasi. Di era digital, kegiatan transaksi online menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Cepat atau lambat digitalisasi bisnis ini pasti akan terjadi dan akan dilakukan. Maka, peran B2B e-commerce maupun marketplace menjadi penting dalam membantu para pedagang tradisional untuk dapat memanfaatkan teknologi, dimana hal ini sejalan dengan himbauan pemerintah untuk melakukan konversi ke digital di masa pandemi untuk mengatasi masalah pada rantai suplai”. Digitalisasi mampu mengatasi hambatan pada sisi supply chain sehingga kendala pelaku usaha ritel konvensional dapat lebih  mudah teratasi.”

Lebih lanjut disampaikan oleh StevenSang, founder GudangAda bahwa tujuan didirikannya GudangAda yaitu untuk menyediakan sebuah platform dengan berbagai fitur yang dapat mendukung para pedagang tradisional FMCG untuk dapat bersaing di era digitalisasi. “Kami memiliki visi dan misi mendukung dan memberdayakan para pedagang tradisional FMCG agar dapat bertahan dan bahkan berkembang di masa pandemi ini dengan menyediakan solusi bisnis berbasis teknologi dengan prinsip Faster, Cheaper, Smarter, Bigger,” tambah Stevensang.

Edukasi dan pendampingan pedagang FMCG dalam mengadopsi digitalisasi

GudangAda sangat menyadari kendala yang dihadapi oleh para pedagang tradisional dalam digitalisasi bisnis ini, maka GudangAda juga menghadirkan solusi dengan pendekatan yang berbeda.

“Sebagai aplikasi berbasis digital, GudangAda tetap mengombinasikan penggunaan human touch dalam melakukan edukasi dan pendampingan di masa awal pengenalan agar pedagang tradisional FMCG dapat terbantu dalam mengadopsi digitalisasi. Untuk menjalankan fungsi tersebut, kami memiliki lebih dari 600 orang di tim Business Development kami yang tersebar di 500 kota lebih di Indonesia yang siap mengedukasi para pedagang,” ungkap Imelda Scherers, Sr. VP Marketing & Commercial of GudangAda.

Edukasi dan pendampingan ini menjadi hal penting, dimana ketika pedagang menjadi member GudangAda, para pedagang akan diberi pengetahuan mengenai digitalisasi bisnis sehingga mereka akan terbantu dalam memastikan ketersediaan stok tokonya, melalui transaksi yang lebih cepat dan bisa mendapatkan harga terbaik. Hingga saat ini, jumlah member GudangAda sudah mencapai lebih dari 150.000 pedagang grosir dan eceran yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Pedagang tradisional FMCG yang menggunakan aplikasi GudangAda dapat menjadi penjual dan pembeli. Pendaftaran untuk menjadi member juga sangatlah mudah. Setelah mendownload aplikasi GudangAda, maka dapat menghubungi customer service kami melalui fitur chat atau direct message di official Facebook dan Instagram GudangAda, atau mengirimkan whatsapp ke customer service kami di 0819-600-9999 untuk dibantu proses verifikasi” ujar Imelda.

Selain itu, pedagang tradisional FMCG yang berbelanja melalui aplikasi GudangAda dapat menggunakan opsi GudangAda Logistik. Hal ini mendukung kebutuhan mitra serta mempertegas komitmen untuk mendukung physical distancing yang dicanangkan pemerintah.

Dukungan GudangAda terhadap pedagang tradisional FMCG selama pandemi Covid-19 juga dibuktikan dengan program GudangAda berbagi ratusan ribu masker kain gratis yang bertujuan melindungi para pedagang FMCG dan memutus rantai penyebaran virus. Program ini merupakan bentuk kepedulian GudangAda terhadap pedagang FMC yang setiap hari masih harus melayani dan berinteraksi dengan banyak pembeli sehingga cukup beresiko terkena paparan virus. Sejak awal pandemi hingga sekarang, GudangAda juga tidak henti-hentinya mengingatkan mereka untuk selalu memakai masker, mencuci tangan, dan tetap menjaga jarak salah satunya dengan beralih ke transaksi online. (AM/BA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 38 = 48